ada yang mau ikut prulink syariah?
July 21st, 2008 by sieemshubungi sieembadra yak ![]()
hubungi sieembadra yak ![]()
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
(Q.S. Ar Rum: 21)
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim insyaallah akan berlangsung pernikahan kami:
Eem Sulaeman
[ sieems ]
dengan
Ida Istiqomah
[ sembadra ]
Waktu Akad Nikah :
Sabtu, 17 Mei 2008
Pukul 15.30 s.d selesai
dan Resepsi :
Sabtu, 17 Mei 2008
Pukul 19.00 s.d selesai
tempat Akad Nikah dan Resepsi :
Dirumah mempelai wanita : Jl. Kenanga No. 10 RT 04 Rw 04
Desa Pamutih Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang
mohon doakan kami dengan:
“barakallahulaka wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fii khoir”
“Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan“.
(HR. Ashabus Sunan kecuali An Nasai dan lihat Shahih Tirmidzi 1/317)
jazakumullah khoiron katsiro
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
keluarga edy sukarno (alm) / mutmainah
keluarga afifudin (alm) / juariyah
eem & ida
undangan lengkap plus peta bisa dilihat di sini http://www.alifcyber.com/
http://myquran.org/forum/index.php/topic,38417.0.html
Alquran Surah Albaqarah
155.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun"[101].
157.
Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari
Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
[101]
Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami
kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali
kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik
besar maupun kecil.
“Sungguh
menakjubkan urusan orang mukmin itu, semua urusannya adalah kebaikan,
dan hal itu tidak mungkin terjadi kecuali pada seorang mukmin, jika ia
mendapatkan kenikmatan ia bersyukur, maka itulah yang terbaik untuknya,
dan jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar, maka itulah yang terbaik
untuknya.” HR. Muslim (4/1815) (2999)
“Apa-apa
yang menimpa seorang mukmin baik berupa derita yang menahun, keletihan,
penyakit, kesedihan bahkan hingga kegundahan yang ia alami kecualai
akan dihapus dengannya sebagian dari kesalahannya”. HR. Muslim (4/1582)
(2573)
“Apapun
musibah yang menimpa seorang muslim bahkan duri yang terinjak olehnya,
maka akan dihapus dengannya sebagian dari kesalahannya.” HR. Muslim
(4/1582) (2572)
“Wahai
Tuhan segenap manusia, hilangkanlah segala penyakit dan sembuhkanlah.
Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali
kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit sedikitpun.”
HR. Bukhari (11/273) (5675), Muslim (4/1373) (2191) (60)
“Sesungguhnya
kalian tidak pernah menerima nikmat yang lebih baik dan lebih luas dari
kesabaran.” HR. Bukhari (13/94) (6470), Muslim (2/601) (1053)
“Jika
engkau bersabar, takdir akan terus berjalan dan engkau mendapatkan
pahala, sedangkan jika engkau menggerutu maka takdirpun akan terus
berjalan pula dan engkau tetap harus menjalaninya.” Atsar Ali
Radhiyallahu anhu
“Cobaan
akan selalu menerpa setiap muslim baik dalam masalah jiwanya, anaknya,
dan hartanya, hingga mereka menemui Allah Taala tanpa dosa sedikitpun.”
HR. Tirmidzi (4/602) (5641) dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah
(2270)
Sumber:
Kesaksian Seorang Dokter Mensucikan Hati Melalui Kisah Nyata, Dr.
Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair, SpJP, Daarus Sunnah, Jakarta Juni 2007
“Assalamualaikum, Undangan Pernikahan, Ahad…..2007, pukul…., jazakumullah, Fulanah & Fulan.”
Begitu kira-kira isi sms yang ana (saya) terima baru-baru ini dari seorang akhwat teman ana, yang tinggal di seberang lautan sana. Rasa gembira muncul saat menerima berita gembira itu. Tapi dalam hati jujur saja, ada juga keinginan untuk merasakan berbagai “rasa” menjelang detik-detik pernikahan itu. Meski sudah ingin tapi ana masih bingung, karena kadang merasa belum siap, dan masih terbebani untuk menyelesaikan skripsi. Di saat banyak akhwat lain yang telah mendekati usia tidak muda lagi namun masih dalam kesendirian, ana malah berbingung ria memikirkan “proposal” yang ditawarkan oleh para ummahat(ibu-ibu) yang berprofesi sebagai comblang di kota ana.
Beberapa waktu yang lalu teman dekat ana bercerita dengan wajah sumringah, bahwa ia baru saja ditawari ikhwan oleh salah satu ummahat. Kebetulan orang tua ikhwan itu ingin dapat menantu yang satu suku dengan mereka. Karena itulah teman ana yang satu suku dengan ikhwan ini yang ditawari proposal ini oleh seorang ummahat. Waktu mendengar penuturan teman ana cuma bisa tersenyum hambar. Bukan karena ana cemburu kenapa hanya dia yang ditawari, tapi lebih….lebih karena ana sendiri masih dalam masa “hampa”dari keinginan untuk menikah. Memang beberapa waktu yang lalu semangat ana sempat memuncak untuk menikah. Tapi kemudian turun naik turun lalu naik lagi. Di saat keinginan sedang naik tersebut, ana sempat kecewa dengan ikhwan-ikhwan di kota ana, kenapa tak satu pun yang berminat untuk menikah. Agar pembaca maklumi, karena manhaj salaf baru dikenal di kota ana, sehingga ikhwah-nya pun masih sedikit. Proposal sudah ana ajukan ke beberapa ummahat, tapi belum satu pun yang di “ACC”. Kabarnya sebenarnya banyak ikhwan yang ingin nikah, tapi belum berani proses karena belum punya ma’isyah.(pekerjaan)
Akhirnya ana pun memutuskan menerima proposal dari seorang ikhwan yang tinggal di seberang lautan sana dengan perantara sepupu ana yang tinggal sekota dengan ikhwan tersebut. Berbekal istikharah ana melaksanakan proses taarufdalam hitungan tak sampai dua bulan, dan ikhwan tersebut akhirnya datang ke rumah ana untuk nazhar (melihat). Pada ummi (ibu) ana katakan ada teman laki-laki yang akan datang bersilaturahmi. Ummi dengan kecemasan yang sangat, akhirnya menyampaikan berita ini ke abi. Dan sungguh di luar dugaan kami berdua, ternyata abi menyambutnya dengan suka cita. Mungkin karena selama ini tidak pernak ada cowok yang datang ke rumah untuk menemani ana (baca:pacar), sehingga rasa bahagia menyeruak pada diri abi saat ummi menyatakan hal ini. Bahkan, dari jauh-jauh hari abi sudah berniat membelikan oleh-oleh pulang untuk ikhwan ini, karena dia datang dari kota yang jauh. Ana sempat terheran-heran oleh sikap abi, karena di awal ana meniti manhaj salaf, abi yang paling keras menentang ana. Bahakan beliau sempat mengancam akan mengusir dan melukai laki-laki yang berpenampilan nyunnah alias berjenggot, celana non isbal (di atas mata kaki), berjubah dan berpeci, dan akhwat yang bercadar datang ke rumah. Tapi alhamdulillah ternyata abi tidak berbuat senekad itu. Malah saat ikhwan tersebut sudah sampai di rumah abi lah yang sangat bersemangat menyambut dan menjamunya. Kebalikan dari ummi ana yang ternyata malah bertolak belakang dengan abi dalam menyambut ikhwan tersebut.
Tapi qadarullah (takdir Allah) nazhar tersebut tidak berlanjut sampai ke pelaminan, karena ada beberapa hal dalam diri ikhwan ini yang ana anggap fatal, terutama dalam ilmu din-nya yaitu dalam fikih dakwah. Abi pun berpendapat ada kekurangan dari diri ikhwan tersebut dalam hal sifat yang dirasa abi tidak akan bisa cocok dengan ana. Begitu pula ummi yang tidak menyukai ikhwan tersebut dalam hal penampilan saat pertemuan pertama. Mudah-mudahan hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi tiap ikhwan yang akat datang PDKT pada camer, agar dapat memahami situasi dan kondisi yang ada, memahami sifat dan karakter camer dan jangan “asbak” asal tembak saja dalam berdakwah pada camer. Penampilan yang rapi dan bersih pun, akan menjadi nilai positif di mata camer. Ya berbagi pengalaman saja.
Setelah kegagalan tersebut, ana berniat hanya akan berkonsentrasi untuk mengerjakan skripsi ana yang terbengkalai, sehingga ana menolak beberapa proposal yang masuk. Itulah hati manusia memang mudah terbolak-balik. Di saat ingin menikah tidak ada proposal yang menghampiri. Di saat feeling (rasa) itu lenyap, runtutan proposaldatang seolah-olah mengejek ana. Ana, entah mengapa, semenjak kegagalan taaruf pertama, tidak berminat lagi menikah saat kuliah. Pikiran-pikiran buruk terus menghantui ana. Ana takut tidak bisa menjalani dua tugas berat sekaligus, menjadi istri dan mahasiswi.
Dalam hal ini ana memang berbeda dengan teman ana yang di wilayah Indonesia Tengah. Meskipun ia lebih muda dari ana dan dengan masa kuliah yang insyaaalah masih akan selesai 2-3 tahun lagi, tapi ia sangat gigih memperjuangkan pernikahannya. Akhwat ini sering menasihati ana tentang fadhilah (keutamaan) pernikahan, walaupun seiring perkuliahan. Mungkin juga dia ada benarnya, tapi keraguan masih berputar-putar di benak ana.
Kadang ana menilai diri ini “tidak tahu diri”, karena di saat banyak akhwat yang hampir mendekati usia senja sedang menanti-nantikan pujaan hati datang melamarnya, ana malah menyia-nyiakan kesempatan untuk menikah di usia muda ini. Padahal orang tua ana sudah memberikan lampu hijau bagi ana untuk menikah denganlaki-laki yang bertitel ikhwan berikut ‘atribut” yang ada.
Tapi…lagi-lagi keraguan datang. Sudah setahun lebih ana berkutat dengan skripsi ana, sampai datang kenyataan bahwa ana harus mulai dari awal lagi, karena judul skripsi ana menjadi perdebatan di kalangan dosen. Ana mengalah, ana tidak mau mengambil resiko dengan mencari ribut dengan para dosen, sehingga ana memutuskan mencari judul baru yang bertolakbelakang dari judul ana sebelumnya. Jadi, mau tak mau ana harusmemulai perjuangan baru lagi perihal skripsi ini sementara orang tua ana dengan harap-harap cemas menanti gelar sarjana yang akan nempel di belakang nama ana. Apakah kelak ana bisa menyeimbangkan tugas sebagai istri dan mahasiswi secara bersamaan jika ana nikah sambil kuliah?
Begitulah keraguan masih saja menggelayut dalam benak ana. Sementara itu lain lagi masalah yang dihadapi teman ana. Seorang akhwat yang berada tidak jauh dari ujung timur Indonesia sekarang sedang menanti ikhwan yang sekufu dengannya datang melamar. Beragam ikhwan telah mengajukan proposal, tapi tidak ada yang berkenan di hatinya. Ataukah engkau yaa ukhtiku, masih mengharapkan sang ikhwan yang telah sekian lama menancapkan panah asmaranya tepat di hatimu? Mudah-mudahan Allah memudahkan urusanmu agar engkau segera berlepas diri dari fitnah hati yang terus menerus menghantuimu…
Seorang teman lagi dia akan menikah dalam waktu dekat. Ia bercerita bahwa sang ikhwan –calon suaminya- langsung datang ke rumahnya dan langsung melamar, tanpa ia tahu dari mana si ikhwan kenal dia. Ya, lagi-lagi, masukan ana dapatkan dari akhwat ini, “Jangan terlalu berlebih-lebihan cari jodoh. Jodoh itu nggak tahu kapan datangnya. Contohnya saja ana, ikhwannya langsung datang ke rumah tanpa perlu dicari-cari!” seloroh teman saat ana bercerita bahwa ana ingin menikah. Ya mungkin iya bagi dia. Allah telah memudahkan urusannya dalam hal jodoh. Tapi bagaimana dengan yang lain? Jalan mencari jodoh tiap orang berbeda-beda. Contohnya kasus seorang akhwat yang berkali-kali taaruf, tapi gagal selalu karena ikhwannya mendambakan kelebihan dari segi fisik pada diri calon istrinya. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan pahala yang berlipat ganda atas kesabaranmu yaa ukhti…
Mungkin sekilas, kisah yang ana hadirkan untuk pembaca ini, seperti kisah fiktif yang sering beredar di pasaran sebagai ‘novel islami’. Tapi kisah ini adalah nyata ana alami, berikut dengan kisah-kisah teman-teman ana yang tersebar di berbagai kota. Ana sekarang, masih dalam tahap kebimbangan perihal proposal nikah ini. Apakah ana harus menerimanya, ataukah ana menynggu skripsi ana kelar? Karena, orang tua ana sangat mengharapkan ana meraih gelar sarjana –kalau bisa- sebelum menikah.
Menimbang mudharat (keburukan) dan mashlahat (kebaikan) yang akan timbul, maka ana masih berbingung ria menghadapi masalah ini. Adakah nasihat untuk ana? Sekarang ana masih menanti dan menanti. Kapan waktuku tiba…? (Ummu Syafiq)
Saya menyatakan bahwa cerita ini benar-benar kisah nyata tanpa ada rekayasa
Ttd
(Deasy Novriana-Ummu Syafiq)
Catatan Redaksi
Menikah sambil kuliah? Aduh mungkin belum bisa dibayangkan bagaimana repotnya oleh sebagian orang. Bagaimana tidak, mikirin dan ngurusin kuliah saja sudah repot dan melelahkan, apalagi ditambah pekerjaan rumah serta melayani suami dan anak, jadi bertumpuk kan bebannya? Benar secara teori, namun dalam kenyataan bisa lain jadinya.
Begitulah seringkali sesuatu menjadi berat saat masih di awang-awang, padahal kita tidak tahu ada banyak kemudahan ketika dikerjakan. Apalagi jika keinginan tersebut semata-mata untuk mencari keridhaan Allah Taala semata, insyaallah pintu kemudahan akan terbuka dari arah yang tak disangka-sangka (min haisu laa yahtasib)
Menikah merupakan ibadah mulia yang penuh dengan keutamaan. Begitu ikrar suci ini diikatkan, berbagai pintu pahala menunggu pasutri yang tentu saja ingin memasukinya. Dari pintu yang mudah dibuka dan menyenangkan, hingga pintu yang perlu kesabaran dan menguras tenaga ketika pasutri memasukinya. Dan semua itu, sekali lagi, berpahala! Mungkin penjelasan ini masih terlalu abstrak untuk dicerna, namun bagi yang telah melaksanakannyaitu bukan suatu hal yang bikin dahi berkerut.
cobalah dipikir sekali lagi dengan memakai “kerudung kuning” untuk mengimbangi kebimbangan saudari yang disebabkan harena hanya menimbang “kerudung hitam dan merah” kerudung kuning, hitam dan merah? Ah ini hanya terinspirasi dari “six thinking hat”-nya De- Bono. Bingung maaf. (Opo to maksude redaksi ki? Ra mudeng blas!)
Intinya cobalah saudari lebih positive thinking terhadap nikah sambil kuliah. Sisihkan persangkaan dan bayang-bayang buruk yang menghantui saudari. Lebih enak untuk husnuzhan. (berprasangka baik)
Dengan menikah ada pendamping yang menemani saudari ketika sibuk di depan komputer menyelesaikan skripsi, memburu dosen pembimbing untuk minta ACC, atau membantu saudari dalam mengumpulkan data-data. Bahkan ketika saudari kelelahan melakukan hal ini itu ada yang menghibur maupun berusaha menghilangkannya. Dengan memijat atau sentuhan mesra lainnya. Nah gimana? Menikah sambil kuliah lebih enak bukan?
Setelah menikah saudari bisa bebas ke kampus tanpa harus takut ikhtilat dan khalwat, tentu saja karena suami saudari bisa membantu melakukan urusan administratif maupun birokrasi bila saudari harus berhadapan dengan lain jenis yang bukan mahram. Jadi, sungguh mengherankan kalau hal ini malah membuat saudari “malas” menikah. Kuliah kan bukan alasan yang membolehkan adanya ikhtilat dan khalwat? Nah, untuk itu selamat menikah sambil kuliah. Semoga Allah Taala memudahkan saudari untuk melakukannya.
Kisah Nyata Majalah Nikah Volume 6 No. 3 Juni 2007
nb. Nasehat orang bijak “jangan terlalu sering menolaks, ntar kl ga ad yg dtang lg paniks dah!”
Era abad 20 diawali dengan pertumpahan darah yang cukup besar.Dimana perang dunia terjadi hampir melibatkan seluruh negara. Otomatis dunia pada saat itu terpecah menjadi blok-blok. Jutaan manusia menjadi korbannya. Termasuk di dalamnya adalah pembataian etnis pada benua afrika…apakah yang menyebabkan hal ini ?
Era globalisasi mengalir begitu deras, menghujani setiap keluarga. Dari sebuah kotak kecil bernama televisi. Maka kita akan banyak mendapatkan pembenaran-pembenaran dari remaja-remaja dan orang-orang dewasa atas cinta yang menghinggapinya. Mulai dari berduaan penuh nafsu, pegangan tangan, ciuman, sampai dengan kehamilan tanpa akad, atau ada juga bunuh diri karena putus cinta…apakah yang menyebabkan hal ini ?
Cinta, Amor, Love atau apapun kata itu, yang jelas maknanya hanya satu..Perasaan untuk mendapati belahan jiwa. Yang ternyata hal ini cukup besar mempengaruhi peradaban dunia. Bagaimana Taj Mahal yang megah itu dibangun ? Bagaimana Piramid yang tinggi itu dibuat ? Bagaimana Istana dibangun ? Bagaimana jutaan mayat korban karena perang ?..semua karena cinta…(termasuk juga bagaimana mereka bisa bertahan hingga mendapat sms terbanyak..Melettttttt). Luar biasanya sifat ini maka manusia tidak akan lepas dari 5 huruf ini. Lihatlah apa yang telah dibuat oleh para sinemas kita, Ada Apa Dengan Cinta, 30 Hari Mencari Cinta, Eiffel I’m In Love, Nostalgia SMU, dll, belum lagi ditambah dengan jutaan lagu-lagu yang lebih banyak didominasi dengan tema-tema percintaan sebelum pernikahan, maka kemanakah percintaan setelah pernikahan ?
Tulisan ini bertujuan untuk mencoba merefleksi kita semua, yang sedang pacaran, yang sudah menikah, yang akan bercinta, yang berjuang atas nama cinta..It All About Love..karena pada dasarnya cinta adalah kebijaksanaan…koq bisa ?
Buat yang masih pacaran,ketika sang pria harus pergi meninggalkan wanita karena ada kontrak kerja,maka mereka berdua akan saling menuggu tanpa ada kejelasan. Padahal bisa jadi dalam masa tunggu itu pria maupun wanita bisa bertemu jodohnya masing-masing yang mungkin lebih baik dari pasangannya saat ini. Karena pintu rezeki Allah sangat berlimpah, namun mereka terlalu picik untuk memaksakan kehendak untuk hidup bersama. Oleh karenanya penutup pintu rezeki itu bernama pacaran tanpa status. Sehingga mereka terjebak pada zina-zina kecil..dan bisa berubah zina besar. Karena ketika cinta adalah bijaksana,maka mereka seharusnya mengikhlaskan diri menunda hubungan sampai mereka berdua siap untuk ke jenjang berikutnya. Sehingga pernikahan akan menjadi berkah karena diisi dengan lebih banyak taqarrab kepada Allah SWT, bukan foto-foto akhwat yang tidak jelas calon istri atau bukan. Ada juga kasus yang banyak menimpa ABG kita saat ini, ketika roman picisan menjadi cover bagi cinta mereka. Maka ketika mereka “putus” pacaran sampai ada yang patah hati..itu masih lumayan..tapi tragisnya ada yang sampai mengakhiri hidupnya..Naudzubillahi min dzalik. Lebih banyak sebenarnya mereka berdua habisi waktu dengan berdua, jalan berdua, pengangan tangan, ciuman hingga ketaraf yang paling dibenci Allah SWT..Zina…walau kebanyakan orang saat ini sudah menganggap biasa, padahal hukum Allah terus berjalan, tidak tergantung pandangan seseorang atau sebuah bangsa…Karenanya Sang Pencipta telah menyiapkan balasan yang setimpal di akhirat kelak. Karena ketika cinta adalah bijaksana, maka mereka berdua seharusnya dewasa dalam bertindak sesuai dengan norma agama. Mengakhiri hidup karena alasan patah hati…terlalu sempit untuk dilakukan. Zina atas nama cinta..terlalu naif untuk meluapkan nafsu birahi yang nikmatnya hanya sesaat tapi siksanya kelak sepanjang hayat..Naudzubillahi min dzalik
Buat yang sudah menikah, ketika istri atau suaminya sudah tidak semenarik yang dulu lagi, badannya yang bertambah besar, kulitnya yang tidak kencang, senyumnya yang mulai jarang. Maka kebanyakan orang awam akan mengambil jalan pintas..Selingkuh. Atau minimal ia akan merasa rumah tangga biasa saja. Datar tanpa makna. Jangankan puisi cinta, untuk memberikan senyuman saja susah. Karena jika cinta adalah bijaksana, maka mereka seharusnya introspeksi diri, dan bertekad mengisi keluarga dengan lebih berarti lagi. Tidak mudah tergoda hawa nafsu sesaat, tidak cepat marah karena banyak menuntut, tapi bijaksana akan mengisi kesabaran untuk menahan diri melihat pasangan kita berubah secara bertahap, bijaksana pula untuk memberikan yang terbaik buat pasangannya. Karena mereka sudah tahu, bahwa amal yang mereka lakukan akan menjadi catatan pahala buat di akhirat kelak..sesuai dengan perintah rasul..Menjadi sebaik-baiknya untuk keluarganya. Karena sekali lagi, pernikahan bukan melulu urusan fisik, wajah cantik, kulit putih bersih, tinggi ideal, lesung pipit, bibir merah delima, dst…banyak yang bisa diisi, mengaji berdua, saling bercanda, mesra berpegangan tangan, sholat qiyamullail berjamaah, hadir ke pengajian sama-sama, berpetualang bersama, berkemah berdua, dll…karena semua menjadi indah jika dilakukan bersama-sama..termasuk memasak…daripada membujang gitu lho !!!
Buat para aktifis da’wah, ketika momen taaruf datang, tapi selalu gagal karena ada saja yang tidak cocok. Bahkan alasanpun menjadi batu hitam. Masalah sepele terlalu dibesar-besarkan, “ada tahi lalat di pipinya, jadi nggak sreg”..aneh…memangnya nikah tiap hari bakal megangin tahi lalat. Kulit agak gelap sedikit sudah mundur, ekonomi kurang sepadan juga batal, dan alasan-alasan sepele lainnya. Yang sebenarnya hal itu malah memperlihatkan ketidaksiapan dia, terlalu banyak kriteria, terlalu ideal kriteria, dll. Padahal bisa jadi dia lebih sering ber-sms-an ceria dengan akhwat, ya itu tadi..Ikhwah Tapi Mesra (ITM). Kriteria itu lumrah, tapi jadi tidak lumrah ketika kita tidak bersabar dengan apa yang ada di depan kita. Dan di dunia inipun tidak ada yang sempurna, karenanya jangan sampai akhirnya ia menggadaikan kriteria, “ya sudahlah terserah siapa,asal mau sama saya”, karena umurnya yang mulai bertambah.
Sekali lagi ini tulisan ini bukan bermaksud untuk menghakimi, namun lebih bersikap untuk memberi cara pandang yang lebih baik pada arti cinta sesungguhnya..yaitu kebijaksanaan..untuk mengambil yang halal dan menjauhi yang haram, untuk memikirkan jangka panjang ketimbang jangka pendek, untuk memilih yang lebih primer ketimbang sekunder, untuk lebih menghidupkan kehidupan rumah tangganya ketimbang melakukan perselingkuhan, untuk lebih menahan diri ketimbang menjalani pacaran diluar batas, untuk lebih Ikhlas….itu saja.
Al Muhandis
(dedicated buat teman2 ku yang akan taaruf..gud lak ya nov!)
Kulihat bunga di taman indah berseri menawan cantik anggun dan jelita melambai-lambai mempesona
Semerbak bunga setaman semarak warna-warnian memancarkan keanggunan sejuk dalam cahaya Islam.
Ada bertangkai mawar kaya akan wewangian khasanah yang memerah kuning ungu dan merah jambu
Ada si lembut melati pantulkan putih nan suci tebarkan harumnya yang khas tegar saja di medan ganas.
Si kokoh anggrek berbaris serumpun menanti siraman kasih sejuk air jernih.
Rimbun senyum dahlia palingkan gundah harap.
Terhenyak daku tersadar smua itu bukan tujuan tetapi bunga Islam yang tertaburkan benih iman pilihan
:D
: p :p :p
Suara Persaudaraan
April Mop
Pada tanggal 1 April orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.
Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop, yang hanya berlaku pada tanggal 1 April, adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orang tua, saudara, atau sejenisnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop.
Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.
Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.
Tahukah anda, bahwa perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan
April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dibebaskan Islam pada abad ke- 8M oleh Panglima Thariq bin Ziyad,Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur.
Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan.
Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Got dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.
Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal.
Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya.
Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.
Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai Pasukan Salib . Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan.
Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.
Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan . Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak muslim Granadayang masih bersembunyi di rumah-rumah.
Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.
Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granadadan berlayar meninggalkan Spanyol.
Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granadakeluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan Salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka.
Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara Salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.
Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib segara membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.
Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day).
Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.
Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.
Wahai saudara-saudariku sesama Muslim, sampai hatikah Anda semua merayakan April Mop sekarang ini, setelah mengetahui apa yang sebenarnya melatarbelakangi perayaan yang diadakan dunia Barat setiap tanggal 1 April itu
Semoga membuka mata hati kita & Allah SWT akan menjadi saksi bagi kita semua. Amin.
Assalamu’alaikum yaa Akhi wa ukhti…
artikel yang pertama kali saya lihat mangrnai April MOPadalah:
http://swaramuslim.net/more.php?id=199_0_1_0_m
dimana isinya yaitu tentang April Fools day yang berhubungan
dengan ditipunya orang-orang islam (trus dibantai) spanyol pada
saat penaklukan Granada dan diklaim terjadi pada tanggal 1
April.
Dari Informasi yang ana dapat dari buku Islam in Andalus karya
Ahmad Thomson dan Muhammad Ata’ur Rahim, ana sama sekali tidak
menemukan kejadian 1 April diatas, bahkan yang sebenarnya
terjadi, Granada jatuh pada tanggal 12 Januari 1492 bukan 1
April.
Dan ana mencoba browsing dan didapatlah Link ini yang berasal
dari saudara kita sendiri dan berlatarbelakang Sejarawan:
http://www.geocities.com/muslimtruth/April_Fool.html
Dari link itu jelas dikatakan bahwa April Fools day (April MOP)
tidak ada hubungannya dengan pembantaian umat islam di Spanyol
(Inquisisi & Prekusisi), walaupun memang terjadi banyak
pembantaian umat muslim disana.
Wahai Saudara2ku sekalian, ana mohon apablia mendapat suatu
berita tidak untuk ditelan begitu saja. Harus kita telusuri
benar tidaknya berita tersebut supaya tidak terjerumus kedalam
kebodohan. Ana tidak habis fikir, apa yang dikatakan oleh kaum
orientalis mengenai hal ini, tentu mereka mentertawakan kita.
Wallahualam mishawab
Wassalamu’alaikum Wr. wb.
isinya http://www.geocities.com/muslimtruth/April_Fool.html :
Salaam alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Recently a Young Sister’s Group passed on a questionable story to my daughter in which the claim was made that Fool’s Day had to do with the unthrowing of the Muslims of Spain. Being that my husband and I are history buffs & I have studied the history behind holidays we knew this “claim” to be false.
It is sad that it is “dangerous” for our young Muslims to even enter in to “religious” discussion on supposedly serious Muslim chat groups (even gender-segregated) due to the rampid gossip that is spread under the cloak of “truth”. This story is a clear example of how willing many Muslims are willing to make a “boogy man” out of others, rather than face the fact that the Loss of Spain was due to the corruption of the MUSLIMS who fought amongst themselves, as is often the case today in the Ummah.
Instead the Muslim Ummah wants to blame someone else and so they accept who ever the finger is being pointed at. What ever happened to Islamic justice? Solely because someone is a non-Muslim does not mean they are in the wrong and evil, while being Muslim makes one right. Nor does being born into a Muslim family make one right and the others wrong.
Yet this is happening. I have heard in our Ummah statements by professors that “they aren’t REAL Muslims” in reference to Muslim American converts. I have heard Arabs speak derogatorily about other races within the ummah, blaming the non-Arabs for bring fitnah and innovation into the Ummah. All of these acts are dividing and destroying our ummah. The shatan doesn’t need the non-Muslim to send spies into the Ummah to destory us, we have many within our own Muslim Ummah who are more than willing to help the shatan for the sake of Nationalism, Tribalism, Racism and Economic rankings to do that.
We fight for the sake of buildings, but sit back and let our Brotherhood and Sisterhood destroyed! May Allah forgive All of Us for our inaction and our weak deens!
Below I have added the article that corrects the misinformation that is being passed by the Muslim masses on the email. Insha Allah, in the future we will start to check into these claims before they are shared with our fellow Muslims.
Jazak Allah kul khair
Salaam alaikum wa rahmatullah
Sincerely Your Sister in Islam,
Sister Anisah of South Dakota
http://www.angelfire.com/sd/HIRU
======================================================================
It Appears That Muslims Are the Fools
http://www.islamtoday.com/everything/
Now as regards the incorrect story circulating amongst the Muslims on the Internet saying that April Fool’s Day is the celebration of the kufar over the conquest of Muslim Spain. I felt that it was necessary to clarify a few points in the interest of truth, inshallah.
Bismillah Al Hamdulilah was Salat wa Salam ala rasoolulah. Allahu Alim. In the Name of Allah, I praise Allah and ask for His Peace upon Muhammad, ameen. Allah Alone is The All-Knower.
To continue: Once again, Muslims are circulating a fabrication on the Internet trying to claim things which can easily be proven incorrect by Christians and non-Muslims who rejoice in watching us play the part of Everyday Fools.
The most recent story says that Christians could not conquer the Muslims there and sent spies to discover why. According to the story, they found that the Muslims there were on the ‘Taqwah’ (God Fearing and Pious) of Islam. Then the story says the Christians sent in alcohol and cigarettes which the Muslims used and lost their ‘Taqwah’ and then the Christians defeated the Muslims on April first and began celebrating ‘April Fool’s Day’ ever since. This story is not correct in many aspects.
1.) First, let us consider the historic fact that Muslim Spain ended on the 12th of January in the Christian year of 1492 A.D. yet ‘April Fool’s Day was not heard of until over fifty years later. Once upon a time, back in 16th-century France, before computers, people celebrated New Year’s Day on March 25, the advent of spring. It was a festive time. They partied steadily until April 1. In 1564, when the calendar reformed and became Gregorian, under the influence of Pope Gregory, King Charles IX proclaimed, perhaps pompously, that New Year’s Day should be celebrated on January 1st instead of in the spring. Diehard conservatives resisted the change (or perhaps didn’t hear about it due to the absence of e-mail) and continued to celebrate New Year’s from March 25 to April 1. During this period of spring festivity, the more flexible French mocked the rigid revelers by sending them foolish gifts and invitations to nonexistent parties. The victim of an April Fools’ Day prank was called a “poisson d’avril,” or an “April fish,” because at that time of year, the sun was leaving the zodiacal sign of Pisces. April Fools’ Day hit its stride (avoiding the banana peel) in England in the 18th century, and was brought to colonial America by the English, Scottish, and French.
2.) Second, we should know that cigarettes were not even invented until AFTER the time of the fall of Muslim Spain (January 1492). According to the State College in Framingham, the Human Biology course by Dr. Roger Morrrissette, Ph.D., smoking of any kind did not exist in Spain until after it was brought back from the New World AFTER King Ferdinand and Queen Isabella had come to rule Spain. This is from their website:
Introduction to Human Biology Framingham State College Roger N. Morrissette, Ph.D.
I. The History of Smoking.
900: smoking is referred to on a Mayan stone carving.
1492: Columbus notes the natives of the New World smoke leaves.
1550: Spaniards begin cultivating tobacco in the West Indies to export toEurope.
1880: Tobacco use is widespread but people only use small amounts.
3.) Muslim Spain began to deteriorate at the time of Ibn Seenah and otherswho were beginning to use their logic in place of Divine Revelation of Allah. Some were very interested in the Greek and Roman philosophies and concepts and began to try to ‘rethink’ Islam much the same as some ‘modernists’ are doing today. It was right after this that Muslim Spain began to divide up into small kingdoms and fight against each other for control and gold. They employed mercenaries from amongst the Christians and killed and destroyed each other for a number of years. When the Christians came against them the first time, they appealed to the ruler of Maghrib (Morocco) across the Mediterranean Sea who sent troops to quell the attacks. He stipulated that the Muslims must stop fighting each other and go back to the Islamic system of rule under one leader. They did not do it. When they began fighting each other again, the Christians came in very strong against them and this time the ruler of Morocco refused to help them. They lost battle after battle against the Roman Christians and finally the last stronghold of Islam fell to the Christian King, Ferdinand, in January of 1492. [for details order the video "Muslim Spain"]
So regarding the email claiming that April Fools Day is a celebration of the take over of Muslim Spain, it is clear the whole thing is a made up lie. This is totally unacceptable and should be brought to the attention of the one who sent you this lie in the first place. A good Muslim would never accept to repeat lies and fabrications especially in presenting facts about the history of Islam.
If you have received such a letter it is your duty in front of Allah to write back to those who also received it and ask them to contact all of those on their lists and email the truth about this issue. And we should all fear a Day when we will stand in front of Allah and be asked about these matters.
If we don’t do something about correcting the education of our beloved brothers and sisters in Islam, then everyday on the internet is MUSLIM FOOLS DAY.
Again, it is only Allah who has All Knowledge. May He forgive me my mistakes and guide us all to the right way, ameen.
Jazakalah khair, AsSalam alaykum,
Yusuf Estes
http://www.islamtoday.com/
sheikyusuf@aol.com
National Chaplain to World Assembly of Muslim Youth
Sekali lagi ana minta tolong kepada semua Muslim diseluruh dunia untuk tidak menyebarkan berita bohong ini… (katakanlah kebenaran itu walau pahit adanya) terus terang ana sangat sedih mendengar kebodohan2 ini…. terus berlanjut tidak ada habisnya.
http://myquran.org/forum/index.php/topic,17657.0.html
WALLAHU A’LAM BISHOWAB
ADA YG TAHU SEJARAH APRIL MOP DNG SANAD N MATAN YG SHAHIH?
CMIIW
Ada seorang teman saya, suatu hari terpanggil untuk memakai jilbab.
Karena hatinya sudah tetap, dia pun pergilah ke toko muslim untuk membeli jilbab.
Setelah membeli beberapa pakaian muslim lengkap bersama jilbab dengan berbagai model (maklum teman saya itu stylish sekali), dia pun pulang ke rumah dengan hati suka cita.
Sesampainya di rumah, dengan bangga dia mengenakan jilbabnya.
Ketika dia ke luar dari kamarnya, bapak dan ibunya langsung menjerit.
Mereka murka bukan main dan meminta agar anaknya segera melepaskan jilbabnya. Anak itu tentu merasa terpukul sekali… bayangkan : Ayah ibunya sendiri menentangnya untuk mengenakan jilbab.
Si anak mencoba berpegang teguh pada keputusannya akan tetapi ayah ibunya mengancam akan memutuskan hubungan
orang- tua dan anak bila ia berkeras. Dia tidak akan diaku anak selamanya bila tetap mau menggunakan jilbab.
Anak itu menggerung-gerung sejadi-jadinya. Dia merasa menjadi anak yang malang sekali nasibnya.
Tidak berputus asa, dia meminta guru tempatnya bersekolah untuk berbicara dengan orang tuanya. Apa lacur sang guru pun menolak.
Dia mencoba lagi berbicara dengan ustad dekat rumahnya untuk membujuk orang tuanya agar diizinkan memakai jilbab…hasilnya? Nol besar! Sang ustad juga menolak mentah-mentah.
Belum pernah rasanya anak ini dirundung duka seperti itu.
Dia merasa betul2 sendirian di dunia ini. Tak ada seorang pun yang mau mendukung keputusannya untuk memakai jilbab.
Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan truf terakhir.
Dia berkata pada orang tuanya,”Ayah dan ibu yang saya cintai. Saya tetap akan memakai jilbab ini. Kalau tidak diizinkan juga saya akan bunuh diri.”
Sejenak suasana menjadi hening. Ketegangan mencapai puncaknya dalam keluarga itu.
Akhirnya sambil menghela napas panjang, si ayah berkata dengan lirih, “Bambang! Nek wong wedok sak karepe ngono.
Kowe lanang la’kok nganggo jilbab?” Kowe iku wes gendeng opo?
wekeke serius bgt bacanya oom?
:p
HARGA SEBUAH KAMAR MANDI - Antara Taaruf dan WC
Ada sebuah desa yang tidak terlalu pelosok atau terpencil sekali. Hanya saja masyarakatnya masih berpola pikir tradisional. Walaupun sepertiga penduduknya adalah orang gajian atau pegawai negeri yang berseragam, tapi mereka masih suka-maaf-buang air di sungai. Dengan kata lain mereka tidak punya WC! Tak sedikit di antara mereka yang mengatakan bahwa WC itu menjijikkan!
“Kotoran kok ditampung?” begitu kata mereka.
“Mandi di sungai itu segar karena airnya mengalir dari gunung,” yang lain menambahkan.
Maka jadilah sungai di desa itu sebagai tempat MCK favorit. Nah, di desa itulah aku lahir dan dibesarkan. Lalu apakah aku juga mandi di sungai? Pembaca yang budiman, sebenarnya aku ingin mengatakan “Tidak!” Tapi sayangnya, telah tercatat dalam sejarah hidupku bahwa selama lebih dari 20 tahun aku adalah bagian dari mereka. Mandi, mencuci dan buang air di sungai!
Sungai yang kumaksud bukanlah sungai yang indah dan berbatu-batu besar, bukan pula sungai yang angker yang gelap dan menyeramkan. Sungai itu hanya sungai kecil yang mungkin tidak akan mendatangkan banjir bandang dan tidak akan muat untuk buaya berenang. Tapi sungai itu sangat istimewa buat seluruh penduduk desa termasuk aku. Tentu saja karena disitulah setiap tengal malam, aku mandi!
Ya aku memang hanya mandi sehari sekali. Kadang jika airnya surut aku malah hanya mandi tiga hari sehari. Bahkan ketika musim hujan tiba, aku tidak punya jadwal tetap untuk mandi karena air sungai menjadi keruh dan berlintah.
Anda mungkin akan bertanya kenapa harus mandi di tengah malam yang sunyi? Tentu saja jawabannya bukan karena aku sedang mencari pesugihan atau melakukan ritual agar awet muda. Aku hanya malu jika harus mandi di sungai itu saat siang bolong di tengah hiruk pikuk kampung. Aku juga malu jika mandi di awal malam ketika alam mulai gelap tapi jalan di samping sungai masih ramai dengan kendaraan. Bahkan hingga jam 11 malam, masih ada saja truk tebu yang berlalu lalang dari dan ke arah pabrik gula di desa tetangga.
Jika lewat tengah malam, giliran ‘nelayan’ sungai dan pencari katak hijau yang akan memergokiku. Jadi kesimpulannya, menurut penelitian dan pengalaman, hanya tepat tengah malamlah waktu yang paling aman bagiku, tepatnya aman dari rasa malu.
Ya aku memang pemalu. Begitu pemalunya hingga aku juga tak kuasa membangunkan orang tua untuk mengantarkan atau sekadar bercerita pada mereka keesokan harinya. Mereka pedagang, dan sehari-harinya selalu di pasar. Jadi aku takut kalau rahasia ‘mandi tengah malam’-ku terbongkar pada khalayak ramai. Bukannya tidak percaya…aku hanya mengkalkulasi dan memperkirakan saja. Dalam setahun ada 360 hari dan susah bagiku untuk meyakini bahwa dalam tempo sepanjang itu, kedua orang tuaku tidak akan ‘keceplosan’ pada siapa pun tentang masalah ini.
Sebenarnya aku sudah mandi atau dimandikan di sungai sejak balita. Tapi aku baru memulai kebiasaan mandi tengah malam itu sejak aku kelas satu SD hingga 15 tahun kemudian. Tepatnya hingga usia nyaris 20 tahun. Aku ingat guruku SD pernah bilang bahwa mandi di sungai itu tidak baik dan melanggar norma agama dan kesusilaan. Saat kusampaikan hal itu pada orangtuaku, mereka berang!
“Kalau begitu, coba suruh gurumu membangunkan kamar mandi untuk kita. Bisanya hanya bicara saja!”
Enam tahun kemudian, saat kembali kuminta KM itu, mereka masih tetap menolak. “Pilih! Mau melanjutkan ke SMP atau membangun KM dan WC?!”
Pada kesempatan yang lain mereka tetap bersikeras. “Jangan menghubungkan soal agama dan KM! memangnya abah ndak ngerti agama apa?!”
Baiklah…cukup sudah memintanya. Aku tahu watak orang tuaku. Biasanya mereka selalu mengabulkan permintaan-permintaanku tanpa bertele-tele. Jadi jika kali ini mereka mereka menolak maka ini bukan semata karena mereka tidak sayang padaku. Mereka hanya memandang bahwa tidak ada yang salah dengan MCK di sungai karena bukan hanya mereka yang melakukannya. Pegawai kecamatan, kepala desa, pak penghulu, guru ngaji, bahkan petugas puskesmas pun melakukannya juga. Selain itu sumur tua milik kami airnya juga berbau walaupun sudah dua kali di bor. Jika terpaksa mandi di sumur, kami harus mengendapkan airnya selamu lebih dari 12 jam agar tidak berbau lagi.
Ketika berhasil lolos ujian masuk PTN dan mulai kuliah, salah satu hal yang paling kusyukuri adalah bahwa saat itu aku akan tinggal di rumah kos yang memilikim KM dan WC. Hanya saja saat itu aku kurang bisa beradaptasi dengan air di kota itu yang sangat dingin. Jauh berbeda dengan air sungaiku yang hangat. Tapi buatku ini tetap lebih baik daripada mandi di sungai dengan kekhawatiran akan dipatuk ular dan digigit semut hitam.
Atau kejatuhan daun kelapa yang membuat tulang rusuk sebelah kanan di bagian punggungku bengkok. Lalu aku menjadi sedikit bungkuk. Bahkan sewaktu masih kecil aku pernah memergoki maling sapi tetanggaku. Setelah sempat berbasa-basi sebentar, kami sama-sam mengambil langkah seribu. Aku lari karena aku tahu dia maling, tapi aku tak yakin dia juga lari hanya karena kepergok anak kecil perempuan yang mau mandi di sungai. Lebih tepat aku mengira bahwa dia lari karena menduga aku hantu gentayangan.
Dengan alasan tidak kuat suhu dingin, selama empat tahun, aku selalu mendapat jatah untuk tidur di kamar atas. Syukurlah, karena dengan begitu aku bisa leluasa menatap langit dan bintang yang sama seperti yang ada di kampungku. Bintang itulah yang selalu menemaniku mandi. Tentu saja jika langit tidak mendung. Jika rindu kampung, aku ke teras terlentang dan menatap bintang-bintang itu.
Jika hal ini tidak membuatku “baikan”, maka itu tandanya penyakit rinduku sudah kronis. Dengan kata lain aku harus pulang!.
Saat aku pulang kondisi kampung sudah membaik. Sebagian besar sudah punya KM dan WC meskipun mereka hanya menggunakannya saat hujan atau ada tamu. Namun tidak demikian halnya dengan rumahku. Tidak ada yang berubah. Kami tetap seperti dulu. Tidak punya KM dan WC.
Aku memang tak lagi mandi dan buang air di sungai. Bukan karena takut, melainkan karena aku mulai mendapat ilmu bahwa keluar sendirian tengah malam bagi wanita adalah tidak syar’i. Sedang jika harus membangunkan orang tua maka aku tidak tega. Jadi aku bersabar untuk mandi dengan air endapan di sumur tua dan tidak buang air besar sebelum kembali ke kota. Oleh sebab itu aku tidak pernah betah di rumah lebih dari sepekan, karena itulah batas waktu maksimal aku mampu bertahan untuk tidak buang air besar.
Menjelang tahun keempat kuliah aku menjalani taaruf dengan seorang ikhwan di kota. Kabar ini kusampaikan pada orang tua di kampung. Tapi sepertinya aku terlalu terburu-buru menyampaikan kabar itu. Karena dua minggu kemudian qadarullah proses taarufku batal. Tak jadi soal mengenai penyebabnya bagiku, karena aku yakin apa pun yang terjadi telah digariskan oleh Allah Taala.
Dua bulan kemudian aku mudik ke kampung. Subhanallah…ternyata di belakang rumah telah berdiri bangunan baru yang tak lainadalah kamar mandi. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat sampai aku meraba dindingnya yang bertuliskan tanggal penyelesaian pembangunan. Tiba-tiba ibu muncul dan menanyakan pendapatku. Aku bilang aku sangat bahagia atas apa yang telah mereka berikan padaku.
“Tapi kenapa tidak sekalian dengan WC-nya bu? Dan kenapa tidak diberi pintu?” aku sekedar bertanya, bukan menggugat. Karena bagiku ini sudah lebih dari cukup. Ibu tersenyum lalu menunjuk tanggal di dinding itu.
“Saat kau menelepon dan memberi kabar bahwa kau sedang taaruf, ibu sangat senang dan langsung membujuk abahmu agar mau membangun KM dan WC. Kalau bukan untukmu, maka biarlah kami membangun untuk calon menantu dan besan kami. Lalu abahmu setuju. Sayangnya kau menelepon lagi dan bilang taarufnya gagal. Maka kami menghentikan pembangunannya saat itu juga. Dan…pintunya belum sempat dipasang…” ibu menyampaikan semuanya dengan tenang. Seolah tanpa beban.
Ketika beliau berlalu ke dapur, aku hanya bisa mematung di depan KM, tepatnya di depan tulisan tanggal itu. Cukup lama…, hingga aku merasa tulisannya mulai kabur karena air mata.
“Ya Rabb…aku tidak sedih saat taarufnya batal. Aku juga tidak kecewa saat mendapatkan KM nya tak berpintu dan tak dilengkapi WC.” Aku bicara sendiri sambil mengusap air mata dengan punggung tangan seperti anak kecil…
“Tapi saat aku tahu keduanya saling berhubungan…maka aku merasa punya alasan untuk menangis…walaupun aku tidak tahu untuk siapa aku menangis?” Aku kembali terisak…
Pembaca yang budiman, saat naskah ini ditulis aku sedang mempersiapkan ujian komprehensif. Itu artinya dalam hitungan bulan, mungkin aku akan kembali tinggal di kampung.
Aku mengirim naskah ini agar dimuat dan dibaca oleh Anda semua. Dengan harapan dari semua pembaca Nikah akan ada sedikitnya satu orang yang mau mengingatku dalam doa malamnya, dan memohonkan kepada Allah yang terbaik bagiku. Untuk KM itu dan juga untuk ujian komprehensifku. Karena salah satu jenis doa yang makbul adalah doa yang tulus yang tidak diketahui oleh orang yang didoakan.
Malang, 5 Desember 2006
Catatan redaksi:
Berapa banyak muslimah yang gagal pada taaruf perdananya? Tentu banyak, bahkan bisa jadi teramat banyak. Tapi yang langsung berhasil juga tidak sedikit. Sebab begitulah, namanya jodoh merupakan bentuk rezeki yang telah digariskan Allah Taala. Terkadang, bagaimanapun seseorang berusaha dengan segala usaha yang halal tentunya namun sang jodoh tak kunjung tiba. Atau sudah hampir mendapatkannya, tiba-tiba dia terlepas begitu saja. Sebaliknya, ada juga yang belum berusaha, eh…tiba-tiba sang jodoh sudah menghampirinya.
Liku-liku mencari jodoh memang meninggalkan kenangan dan bahkan kekecewaan. Namun, sebagai muslimah yang telah mengenal agamanya, tidak sepantasnya berlarut-larut dalam kekecewaan apalagi putus asa. Walaupun tak bisa dipungkiri, pada umumnya wanita lebih sulit melupakan sesuatu yang berkaitan dengan rasa. Dan banyak kasus ditemui ada muslimah yang menjadi patah semangat, ketika beberapa kali gagal menjalani taaruf. Bahkan yang patut disayangkan, idealismenya menjadi luntur “yang penting ada lelaki yang mau” menggantikan prinsip “pokoknya lelaki yang berilmu.”
Ukhti, menyoal idealisme, memang tidak salah seorang muslimah idealis dalam memilih jodoh. Namun perlu diingat, hendaknya juga realistis. Betul, secara kaidah lelaki yang berilmu (ustadz, dai, dsb) merupakan pilihan nomor satu, namun jika kesempatan untuk mendapatkannya semakin sedikit, lelaki yang punya semangat dan kesungguhan untuk mempelajari agamanya tak seharusnya dinomorduakan. Sekali lagi semua tergantung ukhti. Apakah ukhti termasuk jenis akhwat yang mampu mempengaruhi dan memotivasi atau sebaliknya lebih cenderung pasif dan menunggu bimbingan.
Baiklah, kami mewakili pembaca insyaallah ikut mendoakan agar ukhti diberi jalan keluar dari masalah-masalah yang ukhti hadapi. Semoga ukhti juga diberi kemudahan dalam berbakti kepada orang tua ukhti, sekaligus mampu mendakwahi mereka agar mengetahui jalan yang benar dan selamat. Amin ya Rabbal Alamiin.
Kisah Nyata Majalah Nikah Volume 5 Nomor 12 Maret 2007/Shafar 1428
Ketika pertama kali membaca kisah nyata ini dari awal mungkin yang kita rasakan adalah sebuah keheranan atau geli karena lucu atau malah tertawa terkekeh. Namun setelah kita baca hingga akhir dan mengetahui kemana arah ceritanya pasti kita akan merasakan kesedihan dari si pemilik kisah ini. Betapa “sederhananya” keinginannya untuk memiliki KM dan WC yang rasanya hampir semua kita memilikinya harus dia pendam seumur hidupnya sampai sekarang setelah hampir lulus PT.
Qadarullah keinginan sederhananya itu berkaitan dengan keinginan setiap manusia untuk memiliki pendamping hidup. Walaupun belum berhasil namun mudah-mudahkan kita bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut. Kita sama-sama berdoa agar masalah yang dihadapi pemilik kisah dan kita semua yang membacanya kisah tersebut dapat diselesaikan. Dari keinginan “sederhananya” sampai keinginan agungnya itu. Amin yaa Rabbal alamin.
Wallahu a’lam bishowab.
00.00.00 9 Maret 2007
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan
kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.”Ibunya
Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan
Solo dulu” kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan
diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran)
sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby
face dan anggun.
Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi
bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung
melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di
hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku
untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.
Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa
tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan
shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis,
tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya
harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku
yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota
Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah
hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya
yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup
bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku
mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri
yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain.
Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih
banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah
sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku
sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab
“tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus
belajar berumah tangga “Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika
kupanggil ‘mbak’, “kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa
mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
“wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam
menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku,
“Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas
ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang
kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam
saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon
bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi
menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku me
nangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena
kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami
hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan
segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis
maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas
kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji
dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa”
tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku
sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas
semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak
bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa
handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas
aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam
perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan
Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang
dilakukan ibu. “Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati
pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sa
mbil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak
tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. “Biasanya dikerokin”
jawabku lirih. “Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin”
sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang
dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan
sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana
membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di
tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur
sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin
menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan
Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku
untuk makan malam di istananya. “Aku punya keponakan namanya Mona Zaki,
nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. “Dia memintaku
untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat
memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku
07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya,
cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias
berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba “Mas, bangun, sudah
jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku.
Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “Maafkan aku Mas, membuat Mas
kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas
mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi
itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka
sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia
bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisan Cleopatra.
“Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,
tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang.” Suara
lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.
Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas
wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.
“Maaf� maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana, “lirihnya, lalu
perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. “Mbak! Eh maaf,
maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam
tenggorokan. “Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan
pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum,
agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. “Matanya sedikit berbinar. “Te..
terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur,
Insya Allah.” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang k
upaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum
bersinar dibibirnya. “Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju
yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan
ya?”. Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan
bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku
belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau
wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki
macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku
sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang
kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan
Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang
paling membenci diriku sendiri di dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
“Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling
ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua
dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal.
Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan
terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku
adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang
sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi
memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia.
Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki
Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat
kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata
keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali
menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia
mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan
sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir
tentang keturunan. “Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada
tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku.
“Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.
Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku
tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.
Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur,
aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia
semakin manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera.
Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak
kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya “Mana tanggung jawabmu!” Aku
hanya diam dan mendesah sedih. “Entahlah, betapa sulit aku menemukan
cinta” gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan
alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.
Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak
menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku
pamitan, Raihana berpesan, “Mas untuk menambah biaya kelahiran anak
kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah
bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari
Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa
sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan
segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat
kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan
perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk
angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi
tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan
menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan
dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru
sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat
Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu
dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor
bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang
mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang
dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia
menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur
dijalani.
“Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi.
“Alhamdulillah, sudah” jawabku.
“Dengan orang mana?”.
“Orang Jawa”.
“Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak
saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling
tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”.
“Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”.
“Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”.
“Kenapa dengan Bapak?”
“Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan
orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”.
“Bagaimana itu bisa terjadi?”.
Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona
dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya
seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir
dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,
orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya
lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari
Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah
tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya
yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya
jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan
saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh
Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah
itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.
Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan
begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari
mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih
selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai
saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil
menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis
Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai
S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual
untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di
kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap
tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa
memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup
semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak
bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga
tahun sekali YAsmin tidak bisa.
Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak
terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya
mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir
yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan
ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak
mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus
ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan
namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak
penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta
YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah
membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya
mendapat suami orang Mesir.
Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah
diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah
dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka
tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka
berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis
saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu
di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. “Aku menyesal menikah
dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa
bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata Yasmin yang bagaikan geledek
menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu
dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya
sudah meninggal.
Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku
pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya
dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang
membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi
berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu
saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat
nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung
menggigau meminta ibunya pulang”.
Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan
hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang
dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada
kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak
pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan
pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia.
Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala
didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana
kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi
teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin
membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin
memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak
langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang
tabungan, yang disimpan dibawah bantal.
Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir,
darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat
surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan
lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku “serong”?.
Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata
surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi.
Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan
belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar
biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya�
Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan
betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal
hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena
karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam
jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba”
tulis Raihana.
Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa “Ya Allah inilah hamba-Mu yang
kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan
derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini
hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba
tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta
hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa
baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah
pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya
Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena
kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta
hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk
tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa
hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya
dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarka
nlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau,
Maha Suci Engkau”.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang
luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana
terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan
pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus
bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan
cinta.
Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan
merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti
cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan
tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus
berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu
untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu
kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu
sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan
nafas panjang dan kuusap air mataku.
Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.
Aku jadi heran dan ikut menangis. “Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya
menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah
terjadi.
“Raihana� istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”.
“Ada apa dengan dia”.
“Dia telah tiada”.
“Ibu berkata apa!”.
“Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar
mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat.
Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan
dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak
bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja
membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”.
Hatiku bergetar hebat. “Ke�. kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”.
“Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang
untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke
kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin
mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu
selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi
maafkanlah kami”.
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku
merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku,
dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada.
Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk
sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan
penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru
dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan
hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta,
haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup
kembali.
Tiba-tiba dunia gelap gulita